Review Film: ‘Roh’

“Jangan percaya pada semua yang engkau tampak atau dengar di dalam hutan.” – Mak.

 

Film ‘Roh’ telah mencuri perhatian sejak ia menjadi perwakilan Malaysia dalam kategori “Best International Feature Film” pada ajang bergengsi Oscar tahun 2021. Meskipun belum berhasil masuk sebagai bagian dari nominasi, film yang disutradrai oleh Emir Ezwan ini layak untuk diperhitungkan dalam skala internasional.

‘Roh’ seperti sebuah film yang tengah berusaha menghidupkan alur cerita dalam balutan suasana cerita rakyat Melayu di dalamnya, sebuah detail yang membuat film ini menarik sekaligus unik. Ia seakan tengah menyajikan cerita mistis kelam yang bertipikal cerita rakyat melalui sajian latar tempatnya, yaitu hutan yang diidentikkan sebagai tempat penuh misteri, serta nilai-nilai keagamaan yang cukup mengakar kuat.

Dengan begitu, pantas saja ketika menyaksikan film ini, sebagian besar penonton dimungkinkan untuk terbawa dalam nostalgia masa kecil ketika para orang tua berkata, “Jangan main ke hutan! Di sana banyak setan.”

Film 'Roh'
© Netflix

Film yang dirilis pada tahun 2019 ini bergerak dengan sangat sunyi dari kisah tentang keluarga kecil yang hidup mengasingkan diri di tengah hutan pedalaman. Mak (Farah Ahmad) sebagai seorang orang tua tunggal memilih untuk membesarkan kedua anaknya Along (Mhia Farhana) dan Angah (Harith Haziq) dalam kehidupan yang terasing di hutan.

Mereka bertahan hidup bukan dengan cara-cara duniawi pada umumnya, melainkan dengan berpegang teguh pada hukum rimba yang melarang mempercayai apapun yang ada di hutan, khususnya pada hal-hal yang tidak bisa dilihat dan disentuh.

Adegan pembuka film memang cukup menegangkan, anak perempuan misterius (Putri Qaseh) yang tidak memiliki nama ditampilkan dalam detail rambut panjang berantakan, baju lusuh, dan mimik muka misterius. Ia seakan muncul untuk merepresentasikan roh yang tidak tenang dan mencari ketentraman dengan menakut-nakuti manusia.

Anak perempuan misterius tanpa nama inilah yang menjadi muara konflik yang mengusik kehidupan tenang dari keluarga kecil Mak. Ramalan tentang kematian keluarga itu pada purnama berikutnya diucapkan oleh sang anak perempuan tepat sebelum ia mengakhiri hidup dengan menggorok lehernya sendiri.

Film 'Roh'
© Netflix

Film ‘Roh’ sangat terampil untuk menyentuh ketakutan para penonton dengan cara-caranya yang tenang, tetapi tetap menggelisahkan. Bukan dengan adegan-adegan yang menggemuruhkan detak jantung karena unsur menyeramkan yang hadir secara tiba-tiba di layar atau dominasi elemen skor film yang mengusik ketentraman telinga, film ‘Roh’ bekerja menghadirkan suasana horor yang tak kasatmata.

Keresahan dan kegelisahan ketiga tokoh sentral yang diramalkan akan segera meninggal seolah ikut pula merasuki ketenangan jiwa penonton sehingga debar-debar yang hadir karena terka mendominasi di sepanjang film, khususnya ketika dua tokoh lain ikut dimunculkan, yaitu dukun wanita yang disapa Tok (Junainah M. Lojong) dan Pria Pemburu (Namron).

Keduanya berhasil hadir tanpa kejelasan terkait posisi mereka di antara pihak protagonis atau antagonis. Tok dan Pria Pemburu muncul dengan bersih di dalam film ‘Roh’ tanpa sedikitpun pertanda yang bisa membuat penonton yakin untuk menerka-nerka siapa di antara mereka yang patut untuk dipercayai oleh Mak.

Film 'Roh'
© Netflix

Film dalam durasi 83 menit ini memadupadankan unsur takhayul beserta dominasi sinematografi yang menyorot entitas api dan tanah menjadi dasar-dasar konflik bersuasana horor yang menuntut untuk terselesaikan. Secara garis besar, film ‘Roh’ menyajikan pertarungan antara manusia dan iblis berdasarkan fitrah yang telah ditetapkan dalam ajaran Islam. Tidak memerlukan penampilan-penampilan agamis, ‘Roh’ berfokus untuk menghadirkan sudut pandang Islam terhadap cara iblis memenangkan kuasa atas manusia melalui bisikan-bisikan goda yang menyesatkan.

Hal tersebut telah ditegaskan sejak bagian pembuka film mencantumkan potongan ayat kedua belas Q.S. Al-A’raf, yaitu “..Iblis menjawab: Aku lebih baik daripadanya: engkau ciptakan aku dari api, sedangkan dia engkau ciptakan dari tanah.” Sudut pandang itulah yang membuat film ‘Roh’ mengingatkan kembali penonton, khususnya yang beragam Islam, tentang kisah ketika Iblis menolak bersujud kepada Nabi Adam.

Selanjutnya, film ini seakan sedang menyimbolkan pembalasan dendam dari iblis dan kesombongannya yang merasa bahwa merekalah makhluk paling hebat sebagaimana api yang bisa berkobar membakar tanah. Simbol itu telah ditampilkan pula pada bagian awal film yang mencantumkan potongan ayat keempat belas Q.S. Al A’raf, “Berilah aku penangguhan waktu, sampai hari mereka dibangkitkan.” Keberhasilan ataupun kegagalan pembalasan dendam itulah yang terjawab pada akhir durasi film.

Film 'Roh'
© Netflix

Cara bertutur film ini cukup mengagumkan. Meskipun alurnya bergerak dalam tempo lamban, film ‘Roh’ berhasil menjaga misteri yang penuh muslihat selama film berlangsung. Teka-teki tentang siapa yang menjadi sumber masalah dan siapa yang akan membawa masalah tetap tidak terjawab sehingga rasa penasaran penonton bertahan untuk sampai di akhir film. Penonton pun benar-benar cenderung akan merasa dipermainkan karena batasan antara adegan imajinasi tokoh dan realita tampak samar-samar.

Hal selanjutnya yang tidak dapat diabaikan dari film ini adalah kepiawaiannya dalam mendekatkan diri secara cukup intim dengan masyarakat Malaysia yang konon katanya sangat memercayai berbagai takhayul khas Melayu sehingga meragukan kekuatan Tuhan Yang Maha Besar.

Yang cukup disayangkan dalam film ini adalah permainan peran para tokoh sentral di dalam film ‘Roh’ tampak sangat tidak maksimal. Beberapa konflik sampingan yang dihadirkan justru terlihat muncul sebagai kilas adegan tanpa makna karena keterampilan memainkan emosi dari Farah Ahmad dan Mhia Farhana tersaji seadanya. Selain itu, sisi-sisi mencekam dan sadis tampak hadir secara tidak leluasa. Ia seolah sengaja hanya difokuskan kepada kekerasan yang melanda tokoh anak-anak dan beberapa hewan.

Film 'Roh'
© Netflix

Pada akhirnya, film ini dapat dikatakan sebagai film genre horor yang cukup sulit dicerna karena sajian narasi simbolisnya. Seperti judulnya, film ‘Roh’ lebih berfokus untuk menakut-nakuti “jiwa” daripada “mata” penonton. Sentuhan seperti itu tentu saja akan kurang cocok bagi para penggemar film genre horor yang terbiasa dengan alur bertempo cepat serta keberadaan adegan-adegan menakutkan yang muncul secara tiba-tiba di layar diikuti dengan latar musik yang tiba-tiba terdengar penuh.

 

Director: Emir Ezwan

Cast: Farah Ahmad, Mhia Farhana, Harith Haziq, Putri Qaseh, Junainah M. Lojong, Namron

Duration: 83 Minutes

Score: 7.0/10

WHERE TO WATCH

Netflix